14 Mei 2012

Pluralisme Tonggak Keberhasilan Nation Buildings


Pluralisme adalah  sebuah kerangka dimana terdapat interaksi kelompok-kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormati dan toleransi satu sama lain. Mereka hidup bersama (koeksistensi) serta membuahkan hasil tanpa konflik asimilasi, pengertian menurut ilmu sosial. Pluralisme merupakan salah satu ciri dari masyarakat modern.
            Di Indonesia banyak ditemukan pluralism dalam berbagai hal. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa negara Indonesia adalah negara yang mempunyai jutaan jumlah penduduk, dan banyak sekali kita temukan multi etnis, ras, suku, budaya, agama. Tiap wilayah  tentu mempunyai seni dan budaya yang sangat beragam, sehingga pluralsime budaya pun sudah sewajarnya ada di Indonesia.
            Tiap wilayah berusaha untuk menjaga kelestarian  seni dan budaya yang mereka miliki,budaya yang telah diwarisi oleh nenek moyang. Apalagi di zaman sekarang seni dan budaya dari luar sangat mudah masuk ke negara kita. Karena jumlah seni dan budaya yang sangat banyak inilah, sudah sepantasnya negara Indonesia mengangkat asas Bhineka Tunggal Ika, walaupun berbeda namun tetap satu jua.
            Inti penting dari pluralisme adalah toleransi. Akan tetapi kenyataannya pada saat ini pluralisme yang diidam-idamkan bersama telah mengalami pergeseran. Pluralisme yang berasaskan Bhineka tunggal Ika, sekarang mulai berubah menjadi asa ke-Ika-an.  Padahal keberadaan dari pluralisme sangat penting, karena dengan adanya pluralism diharapakan dapat menyatukan seluruh masyarakat Indonesia dalam upaya pembangunan nasional.
            Pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesiaseluruhnya dengan Pancasila sebagai dasar, tujuan dan pedoman pembangunan nasional. Pembangunan nasional dilaksanakan merata diseluruh tanah air dan tidak hanya untuk satu golongan atau sebagian dari masyarakat, tetapi untuk seluruh masyarakat.
            Masyarakat berperan sebagai subjek dalam pembangunan nasional, yang tentunya sangat berperan penting dalam berlangsung dan suksesnya pembangunan nasional dalam suatu Negara. Masyarakatlah yang menetukan arah dan tujuan pembangunan nasional.  Apabila subjek yang melakukan pembangunan nasional itu belum bersatu, belum mempunyai pandangan yang sama, belum mempunyai tujuan yang sama, tentunya pembangunan nasional pun tidak akan berlangsung dengan lancar dan terarah,apalagi sukses. Salah satu hal yang menyebabkan masyarakat belum bisa bersatu adalah karena terlalu banyaknya perbedaan yang  muncul dalam dinamika kehidupan, perbedaan ini berasal dari multi etnis, ras, agama, suku, budaya. Dan masalahnya perbedaan yang beraneka ragam atau pluralisme ini masyarakat belum bisa memaknai dengan baik apa itu pluralisme, sehingga terjadilah pergesekan budaya dan pertentangan antar suku budaya. Kebanyakan masyarakat memaknai pluralism sebagai pencampuran, padahal  pluralism yang dimaksudkan adalah pengakuan. Pencampuran antar budaya bukanlah hal yang mudah diterima oleh setiap orang yang memiliki budaya tersebut, sehingga ketika ada perbedaan yang dipaksaan untuk bercampur menjadi satu, tentunya menimbulkan pertentangan.
            Pluralitas tidak bisa dihindarkan apalagi ditolak meskipun manusia tertentu cenderung menolaknya karena pluralitas dianggap ancaman terhadap eksistensinya atau eksistensi komunitasnya. Salah satu contoh dari konflik yang disebabkan karena kekurang pahaman dalam pluralism budaya adalah kasus Ambon, Sampit, dll. Seperti yang kita ketahui, kasus Sampit adalah kasus antara suku  Dayak dengan suku Madura. Sebelum peristiwa berdarah meledak di Sampit, pertikaian antara suku Dayak dan suku Madura telah lama terjadi.  Penyebab pastinya belum diketahui, yang jelas suku Dayak dapat hidup berdampingan dengan damai bersama suku lain tapi tidak suku Madura. Menurut versi yang berbeda-beda, ada yang mengatakan bahwa penyebab konflik antara suku Dayak dengan suku Madura disebabkan karena kasus pembunuhan yang terjadi antara kedua belah pihak dana danya ketidak adilan dalam hukumannya. Selain itu versi lain mengatakan bahwa terjadinya perang antar suku Dayak dan suku Madura karena kecemburuan sosial-Ekonomi.
          Versi berbeda juga menceritakan: Banyak sebab yang membuat suku Dayak seakan melupakan asazi manusia, baik langsung maupun tidak langsung. Masyarakat suku Dayak di Sampit selalu “terdesak” dan selalu mengalah. Dari kasus dilarangnya menambang intan di atas “tanah adat” mereka sendiri karena dituduh tidak memiliki izin penambangan. Hingga kampung mereka yang harus berkali-kali pindah tempat karena harus mengalah dari para penebang kayu yang mendesak mereka makin ke dalam hutan. Sayangnya, kondisi ini diperburuk lagi oleh ketidakadilan hukum yang seakan tidak mampu menjerat pelanggar hukum yang menempatkan masyarakat Dayak menjadi korban kasus-kasus tersebut.
Tidak sedikit kasus pembunuhan orang dayak (sebagian besar disebabkan oleh aksi premanisme Etnis Madura) yang merugikan masyarakat Dayak karena para tersangka (kebetulan orang Madura) tidak bisa ditangkap dan di adili oleh aparat penegak hukum.
Etnis madura yang juga punya latar belakang budaya kekerasan ternyata menurut masyarakat Dayak dianggap tidak mampu untuk beradaptasi (mengingat mereka sebagai pendatang). Sering terjadi kasus pelanggaran “tanah larangan” orang Dayak oleh penebang kayu yang kebetulan didominasi oleh orang Madura. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu perang antar etnis Dayak-Madura.
Contoh di atas hanyalah segelintir masalah yang muncul karena pluralism yang kita isam-idamkan bersama dapat menyatukan seluruh suku, etnis,ras, budaya dan agama di Indonesia yang berpenduduk sangat banyak mengalami pergeserean dan mengakibatkan pergesekan. Kasus di atas susah diselesaikan, apalagi kasus tersebut telah ada sejak lama, dan telah timbuk rasa dendam diantara keduanya.
Solusi yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan kembali ke-bhineka tunggal ika-an dalam diri tiap masyarakat Indonesia adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya pluralism,mengenai toleransi, pengakuan terhadap suku, budaya,ras,etnis, agama lain. Bahkan pemahaman ini perlu ditanamkan sejak dini, agar dapat mendarah daging bersamaan dengan tumbuhnya pemikiran yang rasional. Karena pemahaman yang ditanamkan sejak dini nakan membekas dengan kuat. Pemahaman ini bias diperoleh melalui pendidikan mengenai pluralism, dan yang berperan mengenai pendidikan bukan hanya pendidikan secara formal, namun juga secara informal, seperti keluarga dengan cara mengedepankan penghormatan terhadap perbedaan baik ras suku, maupun agama antar anggota masyarakat.
Selain itu masalah mengenai pluralism budaya susah diselesaikan karena dari aparat kemanan kurang tegas dan sikap dalam menghadapi masalah yang muncul antar suku budaya, sehingga masalah yang awalnya kecil, tapi karena penyelesaiannya lamban dan tidak maka akan mengakibatkan masalah menjadi semakin besar.
Perlu adanya dialog dan komunikasi yang intens guna menjalin hubungan persaudaraan yang baik diantara masyarakat. Dengan adanya dialog, akan menambah wawasan kedua belah pihak dalam rangka mencari persamaan-persamaan yang dapat dijadikan landasan hidup rukun dalam suatu masyarakat, yaitu toleransi dan Pluralisme.
Ketika Pluralisme yang menganut asas ke-Bhineka tunggal ika-an terwujud, maka pembangunan nasional pun lebih mudah tercapai karena telah ada persatuan subjek yang akan menjalankan roda pembangunan nasional yang ditujukan untuk kesejahteraan bersama tanpa memandang ras, etnis,suku, budaya dan agama.

0 komentar:

Posting Komentar